“Warung
kopi”, siapa yang tidak kenal dengan tempat ini. Rasanya tidak ada orang Aceh
yang tidak tahu atau tidak pernah duduk di warung kopi. Indahnya hari-hari
disuguhi segelas kopi, sepotong kue, beberapa batang rokok, teman-teman,
apalagi disediakan fasilitas internet gratis. Sedapnya bukan main, waktu
berlalu tanpa terasa. Begitulah pemandangan keseharian yang terjadi di Aceh. Warung
kopi telah menjadi sarana atau media alternatif. Informasi lebih utuh dan
aktual bisa didapatkan di warung kopi, ketimbang dari media dan semuanya dikupas
tuntas di warung kopi, dari info yang masih sebatas isu (haba angen pout) hingga
info yang benar-benar valid.
Warung
kopi juga menjadi sarana interaksi sosial. Tak terbatas hanya teman yang kita
kenali. Teman-teman yang tak kita kenali, kebetulan teman dari teman kita, juga
bisa menjadi teman kita. Dunia warung kopi, dapat disebut sebagai media sosialnya
dunia nyata. Untuk menemui pejabat, kita tidak perlu harus membuat janji
bertemu, antri dan segala macam prosedur lainnya. Karena di warung kopi tak
berlaku sistem antri, kecuali semua kursi sudah penuh terisi. Si pembesar tak
mungkin menghalangi kita untuk tidak menjumpainya di warung kopi, karena minum
kopi bukan lagi hak paten pecandu kopi. Kita bebas keluar masuk warung kopi,
termasuk menjumpai siapa saja di warung kopi. Sebab, interaksi di warung kopi
tak pernah terbatas. Penulis pernah mempunyai ide “nyeleneh” agar di Aceh
tidak perlu lagi ada lembaga/kantor pemerintahan karena segala pikiran,
kebijakan, program dan siapa saja yang layak menduduki jabatan dapat dihasilkan
di warung kopi, sehingga akan terjadi efisiensi dan efektifitas anggaran
pemerintah.
Kita
seharusnya mulai khawatir bahwa dengan kehadiran warung kopi itu menimbulkan
persoalan negatif yang sulit dibendung, walaupun di warung kopi juga terlihat
diskusi hangat. Di antara contoh yang disebutkan adalah hubungan bebas dan
konsumsi narkoba. Pada warung kopi di perkotaan, kita tidak sulit menemukan
pasangan muda mudi yang bebas bercengkerama ria seolah-olah suami istri,
sesekali diselingi tingkah polah gadis-gadis yang merokok dan
permainan-permainan online lainnya. Fenomena ini bukan khas Aceh saja tetapi
umum terjadi di kota-kota lain di Indoensia. Fenomena ini sangat kentara
terjadi di Aceh pasca tsunami 2004.
Efek
negatif yang di dapat dari sebuah fenomena baru ini adalah, pertama : pemborosan
waktu. Menghabiskan waktu berjam-jam di warung kopi hanya untuk minum kopi dan
merokok, bermain game online, akan membuang waktu tanpa menghasilkan hal-hal
yang positif dan produktif. Kedua : lalai terhadap tugas dan tanggung jawab. Ketiga
: terciptanya budaya santai. Diakui atau tidak bahwa watak orang Aceh secara
umumnya sudah terpola dengan budaya santai. Hal ini dapat kita lihat dari
kehidupan sehari-hari. Berapa lama kita pernah menghabiskan waktu di warung kopi?
Dan kalau dibandingkan dengan waktu untuk membaca, menulis atau beraktifitas
positif lainnya.
Akhirnya
penulis mengharapkan agar kita semua dapat memilah dan memilih sisi manfaat dan
mudharat mengenai warung kupi, sehingga generasi Islam tidak menjadi generasi “Ashhabul
Kufi”. Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin.
0 facebook:
Post a Comment