Komitmen terhadap kebenaran disebut juga iltizam bil haq. Seorang dai harus berpegang teguh pada prinsip ini, mengedepankan keikhlasan, kecerdasan intelektual, serta keteguhan hati dalam mengemban misi dakwah. Tanpa tiga pilar ini, seorang dai akan mudah goyah di tengah godaan materi atau bahkan tekanan dari pihak-pihak yang tidak menginginkan syariat Islam ditegakkan.
Allah berfirman: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." (QS. An-Nahl 16:125).
Sesungguhnya jalan dakwah bukanlah jalan yang ringan dan mudah. Penuh rintangan dari luar dan dari dalam. Apalagi di era globalisasi sekarang ini, tantangan dakwah semakin kompleks. Dalam konteks ini, kita dapat rumuskan tantangan yang harus dihadapi para dai atau lembaga dakwah antara lain, tantangan pemikiran dan ideologi.
Kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi telah membuka peluang berbagai ideologi tersus berkembang. Liberalisme, sekularisme, dan pluralisme ekstrem salah satu tantangan Islam. Banyak umat Islam yang tanpa sadar terpengaruh pemikiran ini, sehingga nilai-nilai Islam mulai tergeser oleh prinsip-prinsip yang bertentangan dengan syariat Islam.
Dalam hal ini, Allah mengingatkan: "Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat melalui lisan (ucapan) Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka tidak saling mencegah perbuatan mungkar yang selalu mereka perbuat. Sungguh, sangat buruk apa yang mereka perbuat." (QS. Al-Maidah 5:78-79).
Allah Swt menegaskan, ketika suatu bangsa tidak lagi peduli dengan kemungkaran yang terjadi di sekelilingnya, maka kehancuran sebuah keniscayaan. Inilah tantangan besar para dai, yaitu menghidupkan kembali semangat amar ma’ruf nahi munkar di tengah derasnya arus pemikiran yang membebaskan manusia dari syariat Islam.
Kedua, tantangan sosial dan budaya. Realitas dunia dipenuhi kemajemukan, baik dari sisi agama, budaya, maupun sosial-ekonomi. Pada satu sisi, keberagaman bisa menjadi ladang dakwah yang luas, tetapi di sisi lain, menjadi penghalang ketika umat Islam terpecah-belah oleh sekat-sekat perbedaan.
Ironisnya, globalisasi justru memperlebar jurang kesenjangan sosial dan ekonomi. Sistem kapitalisme menciptakan ketimpangan yang tajam antara si kaya dan si miskin. Kondisi ini sering kali dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk menjauhkan umat dari syariat Islam, dengan cara menawarkan solusi-solusi duniawi yang berlebihan.
Dalam kondisi seperti ini, dakwah harus mampu menjadi solusi nyata, sebab Islam bukan sekadar teori, tetapi sistem hidup yang mampu memberikan jawaban setiap problematika kehidupan manusia.
Ketiga, tantangan teknologi dan media. Dunia digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Media sosial, portal berita, dan platform digital lainnya medan baru perang pemikiran.
Di satu sisi, teknologi informasi alat dakwah yang efektif, memungkinkan pesan-pesan Islam tersebar luas dalam hitungan detik. Dunia digital juga dipenuhi fitnah, hoaks, dan propaganda yang dapat merusak akidah dan akhlak umat.
Kerena itu, penguasaan teknologi dan media kebutuhan para pejuang dakwah. Mereka harus mampu memanfaatkan media untuk menyebarkan kebaikan, sekaligus membentengi umat dari pengaruh negatif yang merusak nilai-nilai Islam.
Keteguhan Jiwa Dai
Jalan dakwah tentu saja penuh ujian. Dari masa ke masa, para dai menghadapi berbagai rintangan. Tidak sedikit yang diintimidasi, dikucilkan, bahkan dibunuh karena menyampaikan kebenaran Islam.
Allah berfirman: "Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali Imran 3:104).
Dakwah membutuhkan jiwa-jiwa yang memiliki iltizam dan muwashafat ‘ailiyah, yaitu jiwa yang ikhlas, pekerja keras, dan pantang menyerah. Dai harus siap menghadapi berbagai tekanan dan rintangan dengan keteguhan hati.
Dalam sejarah Islam, Rasulullah adalah teladan utama keteguhan jiwa. Beliau menghadapi berbagai cobaan dalam berdakwah, mulai dari hinaan, boikot, hingga ancaman pembunuhan. Beliau tetap teguh dalam perjuangan, menolak segala imbalan duniawi yang ditawarkan agar meninggalkan dakwah.
Rasulullah bersabda: "Sungguh, jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui dakwahmu, maka itu lebih baik bagimu daripada engkau memiliki unta merah." (HR. Muslim).
Rasulullah menegaskan, betapa besar keutamaan dakwah. Keberhasilan seorang dai tidak diukur dari banyaknya pengikut, melainkan dari sejauh mana ia mampu menyampaikan kebenaran dengan ikhlas, meskipun hanya satu orang yang mendapat petunjuk.
Pada akhirnya, dakwah tidak cukup hanya mengejar popularitas atau keuntungan duniawi, namun tugas mulia ini harus dilakukan dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan. Allah berfirman: "Wahai kaumku, aku tidak mengharap harta dari kalian. Sungguh, balasanku hanya dari Allah." (QS. Hud 11:29).
Seorang dai atau lembaga pejuang dakwah tidak boleh berharap pujian atau penghargaan dari manusia, namun hanya mengharapkan ridha Allah semata. Sebab, keikhlasan ruh setiap amal saleh. Tanpa keikhlasan, dakwah akan kehilangan energinya.
Catatan pentingnya adalah, dakwah bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi juga mendidik jiwa, membangun karakter, dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya hidup dalam naungan syariat Islam. Untuk ini, kita membutuh lebih banyak lagi dai dan lembaga dakwah yang siap berjuang meninggikan Islam dan umat Islam di seluruh penjuri bumi ini. (Sayed M. Husen/Berbagai sumber)
0 facebook:
Post a Comment