Oleh: H. Muhammad Yamin Abduh, SE, M.Si
Wakil Ketua PW Muhammadiyah Aceh
Ayat Al-Quran yang paling masyhur di kalangan umat Islam terkait dengan puasa adalah surah Al-Baqarah: 183: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa". Kewajiban berpuasa diberlakukan secara berulang-ulang pada setiap generasi umat, kelak akan ada perbandingan, umat mana yang paling bertakwa di antara generasi umat yang menjalankan syarat-syarat untuk bisa menjadi golongan orang yang takwa tersebut.Takwa bukanlah hasil otomatis yang kita peroleh setelah menyelesaikan kewajiban puasa di bulan Ramadhan, karena bulan Ramadhan hanyalah sekolah yang terjadwal untuk latihan rutin menahan hawa nafsu selama satu bulang penuh, sisanya 11 bulan dalam setahun adalah lapangan praktik yang nyata dari proses sekolah Ramadhan.
Oleh karena itu pula, Allah ingatkan dengan kalimat “La’allakum tattaquun”. Semoga, mudah-mudahan, siapa tahu kamu jadi orang yang bertakwa.
Untuk bisa masuk dalam golongan orang bertakwa, maka setidaknya harus memenuhi syarat sebagaimana pesan Allah di Ali Imran 133-135, pertama, ikhlas berinfak di waktu lapang dan sempit
Kedua, mampu menahan amarah. Menahan amarah bukan bermakna mengekang sepenuhnya perasaan, tetapi merujuk pada kemampuan kita untuk tidak membalas perbuatan buruk yang ditimpakan kepada kita dengan perbuatan buruk kepada orang lain. Konsep menahan amarah disini adalah mengendalikan amarah sebagai wujud kekuatan batin yang menonjolkan sisi kebaikan.
Ketiga, mampu memaafkan orang lain sekalipun orang tersebut menzaliminya. Memaafkan orang lain, apalagi yang menzalimi kita adalah hal yang sulit, membutuhkan keikhlasan tingkat tinggi. Tetapi jika kemampuan ini ada dalam diri kita, maka akan menghadirkan ketenangan batin yang luar biasa bagi yang bersangkutan.
Keempat, cinta pada perbuatan baik. Sikap yang selalu mendorong jiwanya untuk melakukan sesuatu yang berdampak baik bagi diri dan lingkungannya melalui praktik-praktik beramal shalih, berbuat baik, sehingga dapat menciptakan kenyamanan bagi masyarakat, serta membantu dan mendorong masyarakat untuk melakukan hal baik pula.
Kelima, bersegera minta ampun kepada Allah saat ingat berbuat zalim. Setiap manusia memiliki potensi untuk bersikap dan berbuat keji baik di sengaja maupun tidak. Sehingga, saat kita mengetahui sikap dan perbuatan kita merupakan sesuatu yang keji atau mengandung maksiat, apalagi dapat merugikan bahkan menyebabkan orang lain teraniaya, secara sadar kita segera beristighfar dan meminta ampun kepada Allah, seraya bertekad tidak mengulanginya kembali.
Takwa itu bukanlah capaian tanpa syarat. Status takwa diperoleh jika 11 bulan setelah Ramadhan kita mampu menjalankan lima hal tersebut sebagai wujud konsistensi hasil pelatihan dengan praktik dalam kehidupan keseharian. Sebelas bulan menjalani praktik ini akan menentukan apakah kita bisa mengimplementasikan seluruh komponen yang disyaratkan tersebut. Jika tidak, maka kita akan memasuki kembali sekolah Ramadhan di tahun berikutnya untuk mengikuti pelatihan ulang.
Jika selama sebelas bulan kita dapat menjalankan seluruh perkara yang dilatih dalam Ramahdan sebelumnya, maka perkara-perkara tersebut akan menjadi nilai-nilai istimewa dalam jiwa kita dan secara otomatis menjadi budaya baru secara individu, karena nilai-nilainya sudah melekat layaknya software (perangkat lunak) yang sudah diupgrade dan diinstall ke dalam hardware (perangkat keras) pada sebuah sistem.
Individu-individu yang memiliki software takwa dalam satu komunitas tertentu jika kemudian berkembang menjadi komunitas besar, maka akan membentuk budaya organisasi, budaya lingkungan yang kemudian menjelma menjadi norma dalam masyarakat yang lebih luas.
Capaian takwa tersebut akan membawa kita pada surah Al-A’raf ayat 96, "Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi...” Wallahua’lam bishawab.
Editor: Sayed M. Husen
0 facebook:
Post a Comment